Menjadi BOS yang Ideal Dengan Situational Leadership

Beberapa hari yang lalu entah kenapa saya sempat tersesat di jagat dunia maya, sampai menemukan satu blog bagus milik John K. Whitehead. Disitu saya sempat membaca salah satu postingannya yang membahas mengenai buku yang dia baca tentang Situational Leadership, karya Paul Hersey and Kenneth Blanchard, menurut saya teori Situational Leadership ini menarik dan bagus untuk saya re-share ya. lets start

Abstraksi

Dari apa yang saya baca pada blog John K. Whitehead pada dasarnya Situational Leadership adalah salah satu gaya kepemimpinan yang dilakukan dengan menghubungkan faktor tingkat kesiapan karyawan dengan bobot tugas yang diberikan. Nah jenis Situational Leadership itu sendiri dibagi mejadi 4

  • Directing
  • Coaching
  • Supporting
  • Delegating

Untuk lebih jelasnya bisa dilihat pada grafik kuadran berikut:

Untuk lebih jelasnya kita coba bahas detail satu-satu ya

Directing Leadership

OK pertama kita mulai dari Directing pada kuadran pertama. Directing ini adalah level paling dasar dari teori Situational Leadership dimana fokus nya adalah mengarahkan. Pada level ini seorang pemimpin (BOS) akan banyak menghabiskan waktu untuk mengarahkan bawahan, menjelaskan SOP, memberikan instruksi detail pekerjaan, memeriksa laporan, dan hal-hal lain yang sifatnya mengarahkan. Gaya Directing ini cocok untuk karyawan baru atau fresh graduate, dimana para fresh graduate ini sebagai newcomer di dunia pekerjaan, pasti sangat membutuhkan mentor untuk mengarahkan dan mengevaluasi pekerjaan mereka.

Coaching Leadership

Ok, sekarang mari kita anggap para fresh graduate tadi telah bekerja satu atau dua tahun lebih, dan mereka telah mempunyai kompetensi dan komitmen kerja yang mumpuni, tetapi mereka belum percaya diri dengan kemampuan yang mereka milik. Nah disinilah saatnya pemimpin menaikan level kuadran menjadi level Coaching pada kuadran kedua.

Coaching adalah teknik leadership yang digunakan untuk karyawan mempunyai kompetensi dan komitmen cukup tetapi mereka belum percaya diri untuk melakukan suatu perubahan (improvement)

Nah pada level ini seorang pemimpin disarankan masih tetap harus tetap fokus pada tugas-tugas yang diberikan (directing) sambil meluangkan waktu yang lebih banyak untuk mendengarkan aspirasi dari bawahan dan menawarkan beberapa saran / rekomendasi ide perbaikan dan hal lain yang sifatnya supportive.

Pada step ini seorang pemimpin disarankan untuk tetap menjaga konsistensi dalam aspek directing (pengarahan) tetapi sambil ditambah lagi dengan supportive yaitu banyak mendengarkan dan memberikan saran. Tujuannya adalah untuk memotivasi karyawan agarberani melakukan perubahan (improvement) supaya dapat berkembang ke fase berikutnya.

Supporting Leadership

Nah idealnya pada step ini seorang karyawan sudah mempunyai kompetensi yang cukup, dan telah melakukan beberapa perbaikan (improvement) terkait kualitas kerja, tapi pada level ini karyawan belum sepenuhnya konsisten dan komitmen terhadap beberapa pekerjaan besar khususnya untuk pekerjaan-pekerjaan atau project-project besar yang melibatkan beberapa organisasi. Nah disinilah saatnya seorang pemimpin menggunakan teknik Supporting Leadership (kuadran ke tiga).

Pada kuadran ini seorang pemimpin harus mulai mengurangi tingkat directive dan menaikan level supportive dengan aktif berpartisipasi memberikan hal yang sifatnya support kepada karyawan. Support yang dimaksud bisa berupa persetujuan terkait budget, menghadiri undangan miting dll. Pada fase ini seorang pemimpin jangan terlalu fokus kepada tugas yang diberikan tetapi fokus kepada hubungan antara karyawan dan kelompok (organisasi).

Delegating Leadership

Ini adalah level dan kuadran terakhir, pada level inilah seorang karyawan dianggap sudah sangat kompeten, berkomitmen dan mempunyai motivasi yang tinggi dalam bekerja. Sehingga sudah saatnya pemimpin bisa mendelegasikan beberapa pekerjaan yang krusial dan beresiko kepada karyawan dengan pengawasan yang minim (baik supportive maupun directing). Sehingga yang perlu seorang pemimpin lakukan pada step ini adalah mengamati proses yang berjalan dan memastikan hasil yang dicapai. Karena idealnya pada level ini chemistry antara seorang atasan dan bawahan telah terbangun, sehingga keputusan, sikap maupun tindakan yang diambil karyawan sudah sejalan dengan visi atasan.

Closing

Well done, demikianlah secuil ilmu yang bisa saya share dari blog John K. Whitehead mudah-mudahan berguna, bermanfaat dan menjadi amal jariyah untuk saya yah. Amin. Wassalamualaikum

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *